cinta by dr purnamawati s pujiarto

Dear all,

Sudah baca email saya sebelum ini yang baru saja kirim perihal kapan
harus menghubungi dokter?

Itu saya rangkum dari berbagai kepustakaan untuk memudahkan smart parents.

Mailing list kita semakin besar. Dimulai dari populasi kecil 19 orang di
desember 2003, meningkat pesat. Dimulai dari segelintir pasien saya, meluas
ke populasi yang bahkan tatap muka pun belum pernah. Saya berterimakasih
kepada kalian semua – yang sudah
seperti anak sendiri, bahagianya saya memiliki begitu banyak anak.
Memiliki begitu banyak cucu.

Buat yang belum mengenal saya, tentunya wajar sekali untuk bersikap kontra
terhadap aktivitas sosial yang saya kerjakan.
Bagaimanapun, selama ini, mindset kita sudah terbalik-balik dan dibiarkan
tetap
terbalik balik. Dan yang memprihatinkan saya sebagai ibu, sebagai eyang,
sebagai dokter anak, pola pemberian obat di negara kita yang patut
dipertanyakan
(coba kalian buka web Prof Iwan: iwandarmansjah), coba kalian juga
berkomunikasi dengan beliau.
Prof iwan salah satu dari sedikit dokter di Indonesia yang masih idealis dan
sangat concern terhadap praktek pola pengobatan di indonesia

Dear smart parents, saat saya masih menjadi staf pengajar di FKUI, saya
mendirikan Komite penggunaan obat rasional, yang selanjutnya dibantu oleh
Australia. Mengapa? Berharap dapat memberikan wacana perihal pola pengobatan
yang rasional artinya yang safe dan cost effective; berharap dapat berbuat
sesuatu untuk memperbaiki pola pemberian obat pada populasi pediatri/anak.

Dalam perjalanannya kami senantiasa melakukan evaluasi periodik, ternyata
seret banget. Terlalu banyak kepentingan bermain.
Bukankah di semua bidang sekalipun, boleh dibilang, status quo jauh lebih
menarik ketimbang “perubahan”.
Di lain pihak, sebagai ahli hati anak (hepatologi) semakin banyak saja kasus
dirujuk ke saya dengan drug induced liver injury. Kerusakan hati akibat
toksisitas obat.

Setelah evaluasi berkala, kami pun menambahkan pada strategi kami – bukan
hanya mendidik mahasiswa kedokteran dan calon dokter anak, kami juga harus
mendidik konsumennya. Coba kalian akses web doctor patient partnership milik
pemerintah UK. Disitu dinyatakan bahwa health care merupakan tanggung jawab
bersama, pemberi jasa layanan kesehatan (dokter dan paramedis) serta juga
tanggung jawab penerima jasa layanan kesehatan (konsumen atau pasien)

Di bawah naungan Komite RUD (rational Use of Drugs) WHO, saya menyusun
kegiatan edukasi consumers termasuk melalui mailing list ini.
Tujuannya bukan untuk mencetak dokter bayangan.
Tujuannya untuk meletakkan urusan health care ini secara proporsional. Saya
selalu bilang kepada mahasiswa2 saya, dokter sekolah 6 tahun, tambah lagi 6
tahun untuk menjadi DSA, tentunya bukan untuk menangani batuk pilek.

Coba kalian ke negara maju yang sistem layanan kesehatannya sudah ditata
dengan baik, anak kalian demam tinggi dengan batuk pilek, mau buat
appointment dengan dokter anak, akan dinasehati: anda
tidak perlu membawa ke dokter anak untuk influenza kecuali ….. nah
diberitahu lah si orang tua kapan harus waspada dan harus menghubungi
dokternya.

Hidup senantiasa punya dua sisi, sisi baik dan sisi jahat. Tuhan tidak akan
menciptakan fenomena demam, fenomena batuk, fenomena diare, fenomena muntah,
bila itu semua semata-mata untuk menyengsarakan umatNya. Pasti ada maksudnya
mengapa Tuhan menciptakan semua mekanisme tersebut.
Tuhan memberi kita mekanisme alarm agar kita memahami apa yang sedang
dihadapi.

kedua, Tuhan memberikan kita kemampuan yang paling tinggi dibandingkan semua
ciptaanNya yang lain. hati, perasaan, dan akal sehat.
Keseimbangan antara kesemuanya akan membantu kita dalam menjalani hidup
ini, di semua bidang, bukan hanya di bidang kesehatan. Kalau di pekerjaan
kita mempergunakan akal sehat disamping perasaan, apalagi dalam urusan
kesehatan, apalagi menyangkut kesehatan buah hati tercinta.

Iqraa bismirabbika. Bacalah – itulah pintaNya
Kalau kita membaca, mayoritas gangguan kesehatan pada
bayi dan anak adalah penyakit yang ringan, yang umumnya akan sembuh dengan
sendirinya dalam waktu tidak terlalu lama. Semua anak pasti pernah demam
bahkan 5 tahun pertama, kerap benar frekuensi mereka demam, tetapi coba
renungkan, berapa banyak yang mengalami komplikasi berat? Berapa banyak anak
demam yang ternyata ensefalitis? Kurang dari 2 %, sedikit sekali. Bukan
karena obat, melainkan karena begitulah natural history majority of
childhood
illnesses. Tugas utama para smart parents adalah – kenali tanda2
kegawat daruratan.
Bayi ensefalitis selain demam, kesadarannya menurun, drowsy dan sulit
dibangunkan, lalu kejang.
Dan kita tahu, semua web perihal kesehatan anak mengajrakan para orang tua
agar mengamati perilaku anak saat mereka demam.
Perilaku anak merupakan parameter yang sangat akurat untuk menentukan ada
tidaknya kegawat daruratan termasuk dalam hal ini infeksi yang menyerang
otak.

Obat, merupakan penemuan besar dalam hidup manusia.
Antibiotika, merupakan kegemilangan dunia kedokteran – menempati posisi
kedua
di bawah penemuan vaksin

Obat termasuk antibiotika, merupakan karunia yang tidak ternilai harganya.
Dengan catatan, bila penggunaannya bijak dan rasional.
bagaimanapun, semua hal dalam hidup ini punya dua sisi; bagaimanapun obat
adalah senyawa kimia yang dalam metabolismenya melibatkan hati dan ginjal
sehingga dapat menimbulkan efek toksik
Obat, bila dipergunakan secara bijak, akan sangat membantu kita, bahkan
dapat menyelamatkan jiwa.

Saya selalu katakan, menjadi cerdas adalah salah satu bentuk – salah satu
perwujudan cinta kasih kita pada anak.

Baca koran hari ini? Kompas dan republika, banyak menyorot perihal RUU
praktek kedokteran yang tidak bersahabat dengan konsumen kesehatan?
Di radio dalam talk show saya, saya selalu tekankan, being smart makes you
healthier, healthier in its real sense karena by being smart kalian
melindungi diri dan keluarga dari kemungkinan hal2 yang tidak diinginkan
termasuk malapraktek.

nah, seperti kata beberapa smart parents yang sudah
memberikan tanggapannya,
keputusan di t angan konsumen. Dan bukankah karena
keputusan di tangan
kalian terlebih anak, dimana orang tua diberi
autorisasi untuk membuat
keputusan, maka tanggung jawab sebagai orang tua
sangat berat. Bukankah
anak – AmanahNya

Selamat memilih, Memilih menjadi konsumen yang sama2 m
emiliki hak dan
kewajiban, atau memilih menjadi pasien yang pasrah dan
pasif?
(saya coba bodo2an membuat analogi: kalau belanja,
kita browse dulu kan,
apalagi kalau mau membeli barang penting, kita pilih
yang paling cost
effective, kita baca2, kita tanya2, mengapa tidak
untuk urusan kesehatan ?

Selamat malam,
Lelahnyaaaa
However, we have to start somehow, somewhat
Atau kita mau tetap terbelakang dibandingkan negara
tetangga kita?
Maaf kalau ada kata-kata yang tidak berkenan, tetapi
percayalah, semua yg
dilakukan semata-mata atas dasar niat baik. Soal
keberhasilan program
educating consumers ini, sepenuhnya saya serahkan
kepada yang Di Atas.

Cinta saya bagi anak-anakmu
wati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s